Di IMF-WB, BI Sebut Indonesia Ideal untuk Kembangkan Fintech

Nusa Dua – Asia, termasuk Indonesia merupakan negara yang ideal untuk perkembangan teknologi finansial. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjelaskan Indonesia saat ini memiliki hampir seperempat dari jumlah penduduk yang menunggu terintegrasi teknologi baru.

Dia menyebutkan saat ini masyarakat Indonesia memang tersebar di ribuan pulau. Selain itu generasi muda di Indonesia saat ini semangat untuk memasuki dunia digital di masa depan.

“Ada lebih dari 50 juta UMKM yang sabar menanti untuk terlibat dalam e-commerce,” kata Mirza dalam sambutannya di acara High-Level Policy Dialogue on Regional Cooperation to Support Innovation, Inclusion and Stability in Asia di Hotel Grand Nusa Dua, Bali, Kamis (10/11/2018).



Mirza menjelaskan saat ini banyak masyarakat baru yang didorong oleh kelompok kelas menengah yang dinamis dan demokratis. “Mereka memandang ekonomi digital sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, seperti evolusi,” ujar dia.

Dia menjelaskan meskipun Asia mengalami pertumbuhan perekonomian yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir, sektor keuangan masih tertinggal di sejumlah negara. Kurang dari 27% orang dewasa di kawasan Asia yang sedang berkembang sudah memiliki rekening bank, jauh di bawah median global sebesar 38%.

Sementara itu, hanya 84% dari perusahaan di kawasan ini sudah memiliki rekening giro atau tabungan, setara dengan Afrika tetapi ketinggalan dari Amerika Latin yang mencapai 89% dan 92% di emerging Europe (kawasan Eropa Tengah dan Timur).

Mirza mengatakan inklusi keuangan dapat ditingkatkan melalui kebijakan yang mendorong inovasi keuangan, dengan meningkatkan literasi keuangan, serta dengan memperluas dan meningkatkan infrastruktur dan jaringan digital. Peraturan untuk mencegah kegiatan ilegal, meningkatkan keamanan siber, dan melindungi hak dan privasi konsumen, juga akan membangun keyakinan terhadap teknologi keuangan yang baru.

Direktur Pengelola Monetary Authority of Singapore Takehiko Nakao menjelaskan teknologi keuangan di dunia berkembang sangat cepat. “Teknologi keuangan yang baru bisa menyebar begitu cepat, teknologi ini sangat menjanjikan untuk mendorong inklusi keuangan di dunia,” ujar dia.

Kemudian, dibutuhkan lingkungan yang memungkinkan teknologi berkembang pesat dan memperkuat kerja sama antar negara untuk membangun standar peraturan dan sistem pengawasan yang harmonis. Hal ini dilakukan untuk mencegah pencucian uang internasional, pendanaan teroris dan kejahatan siber.

Direktur AMRO Junhong Chang menjelaskan teknologi merupakan pemberdaya yang menghubungkan perekonomian dan sistem keuangan sebuah negara. Tak hanya bermanfaat, teknologi juga memiliki risiko saat melintasi batas negara.

“Pembuat kebijakan perlu mengelola dampak teknologi di dalam sistem keuangan untuk mempertahankan stabilitas keuangan,” ujar dia. (kil/dna)