Cerita Miris Meikarta: Pekerja Tak Dibayar hingga Kampung Terjepit

Bekasi – Meikarta yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat merupakan proyek pembangunan kawasan properti terintegrasi milik Lippo Group. Nama Meikarta begitu populer karena iklannya yang sempat ramai di mana-mana mulai dari di tengah jalanan kota sampai ke kantor-kantor dan pusat perbelanjaan.

Namun siapa sangka ada banyak cerita menyedihkan di balik pembangunan mega proyek senilai Rp 278 triliun ini. Ditemui detikFinance di salah satu lokasi pembangunan proyek Meikarta, seorang petugas pengaman berbagi cerita mengenai realita di lapangan.

Sebut saja A, satpam yang baru bekerja dalam hitungan bulan di Meikarta mengaku sejumlah temannya belum menerima komisi dari yayasan yang menempatkan mereka di sana. A mengaku beberapa petugas pengamanan ada yang belum dibayar komisinya sampai saat ini hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja.

“Sekuritinya ganti terus. Masalah pembayaran juga. Dulu ada yang cabut karena belum dibayar,” katanya kepada detikFinance saat ditemui di lokasi, Selasa (16/10/2018).
Namun dia mengaku masih lancar mendapatkan komisi setiap bulannya sampai saat ini. Gaji yang dia dapatkan setara upah minum regional kabupaten Bekasi yang sebesar Rp 3,8 juta, dengan bekerja selama 12 jam dalam sehari.

Tak jauh dari lokasi tersebut, dia menunjukkan adanya sebuah kampung yang masih bertahan di tengah-tengah area proyek Meikarta. Kampung tersebut terjepit di antara lokasi distrik 28 tempat apartemen Meikarta yang sedang dibangun dan central park.

Dilihat detikFinance, area kampung tersebut masih cukup banyak yang masih bertahan. Setidaknya masih ada puluhan rumah yang bertahan di dalamnya.

Salah seorang warga di kampung tersebut mengaku bertahan di tengah-tengah lokasi proyek Meikarta lantaran tak menemui harga yang cocok dari yang ditawarkan. Seorang bapak yang membuka warung makan tersebut mengaku mendapatkan selisih harga yang cukup jauh dari yang ditawarkan.

“Kita ditawarinnya Rp 5 juta, tapi maunya Rp 10 juta per meter (persegi). Karena kalau mau pindah ke tempat yang lain, harganya juga sama aja segitu. Jadi nggak cukup. Mending kita tetap saja di sini,” katanya.

Penawaran harga sendiri tak pernah dilakukan secara langsung oleh pihak pengembang. Biasanya, ada orang ketiga yang dikirim untuk menawarkan harga beli tanah, namun itupun kerap dipangkas lagi oleh si pihak ketiga.

Dia mengatakan sejumlah bujukan pun dilakukan dengan menyebut bahwa lokasi kampung tersebut bakal sulit mendapatkan akses keluar-masuk jika terus bertahan hingga akan dilakukannya penggusuran.

Meikarta memang kerap menyimpan cerita-cerita miring di balik pengerjaan proyeknya yang prestisius itu. Sejumlah isu miring pernah menerpa Meikarta, mulai dari masalah pelanggaran perizinan membangun, pekerja yang tak dibayar sampai yang terakhir soal operasi tangkap tangan (OTT) oleh komisi pemberantasan korupsi (KPK) terhadap sejumlah pejabat Meikarta dan pemda terkait.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Meikarta belum bisa dimintai keterangan untuk mengkonfirmasi informasi tersebut. (eds/dna)