Jangan Sepelekan Diabetes Gestational saat Hamil

Jakarta: Diagnosis diabetes tentu mengerikan, terlebih pada ibu hamil. Ini berarti diperlukan beberapa pemantauan ekstra, perubahan pada pola makan dan mungkin juga obat-obatan untuk menjaga gula darah Anda stabil dan bayi Anda aman di dalam kandungan.

Diabetes gestational cukup umum terjadi pada wanita hamil. Dua sampai 10 persen wanita hamil mengalami kondisi tersebut. 

Plasenta yang menghubungkan bayi dengan suplai darah Anda, menghasilkan berbagai hormon yang tinggi. Hampir semua hormon itu merusak kerja insulin, yang dapat meningkatkan kadar gula darah.

Saat bayi tumbuh makin besar, plasenta menghasilkan lebih banyak hormon penghambat insulin. Bagi kebanyakan wanita, hal ini tidak masalah karena pankreas mereka hanya mengeluarkan cukup insulin untuk menjaga gula darah stabil.

Tetapi, pada wanita yang memiliki diabetes gestational, pankreas tidak dapat mengikuti kenaikan gula darah, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi.

Untuk mengatasi diabetes gestational, dokter mungkin akan merujuk Anda ke ahli gizi untuk menyesuaikan pola makan, terutama jumlah karbohidrat tertentu agar gula darah tidak naik. Olahraga juga penting untuk penderita diabetes gestational karena olahraga dapat merangsang tubuh memindahkan glukosa ke sel-sel yang digunakan sebagai energi. Ini dapat menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.

Memonitor kadar gula darah juga penting dilakukan penderita diabetes gestational. Namun, terkadang mengubah pola makan dan olahraga tidak cukup untuk membuat gula darah stabil. Obat atau insulin diberikan untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Tidak perlu khawatir karena dokter akan memberikan obat yang aman untuk bayi. Tetapi, dibutuhkan waktu pemeriksaan tambahan jika Anda mengonsumsi obat untuk memantau kondisi Anda dan bayi agar tetap sehat dan normal.

Diabetes gestational yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi pada bayi seperti berat lahir berlebihan, gula darah rendah, kelahiran prematur, dan diabetes tipe 2 di kemudian hari. Sementara ibu bayi dapat mengalami tekanan darah tinggi, preeklamsia dan diabetes di kemudian hari.

(DEV)