Ada 9 Pasal Bermasalah, PAPPRI: RUU Permusikan Perlu Dirumuskan Lagi

JawaPos.com – Draft Rencana Undang Undang (RUU) Permusikan masih menjadi perbincangan para musisi. Anggota Komisi X DPR RI, Anang Hermansyah kembali menggelar pertemuan diskusi bersama dengan PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi Pencinta Lagu dan Permusikan Republik Indonesia) di kawasan Matraman, Jakarta Timur , Senin (11/2).

Dalam pertemuan yang digelar tertutup tersebut, Anang dan kawan-kawan mengajak para musisi untuk mengkaji ulang naskah akademik dari RUU Permusikan.

“Apa yang masih kurang, kita sama-sama perbaiki. Kita dapatkan satu Undang-Undang (UU) Musik untuk kita semua, isinya dari kita untuk kita semua,” kata Johnny William Maukar selaku Sekretaris Jendral PAPPRI, dalam jumpa pers di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Senin (11/2).

Ada 9 Pasal Bermasalah, PAPPRI: RUU Permusikan Perlu Dirumuskan LagiDialog mengenai RUU Permusikan bersama Anang Hermansyah, Senin (4/2). (Imam Husein/Jawa Pos)

Kemudian sebagai Kepala Bidang Humas PAPPRI, Bens Leo mengatakan, setidaknya ada 9 Pasal yang bermasalah dan membuat musisi resah dari RUU Permusikan setelah dibahas bersama. Untuk itu, mungkin perlu dirumuskan kembali.

“Ada beberapa pasal yang dalam pasal itu kata harus dan wajib yang meresahkan berbagai pihak,” kata Bens Leo.

Begitu juga menurut Anang Hermansyah yang juga merupakan Ketua Harian PAPPRI. Dia mengatakan bahwa ada aturan dalam RUU Permusikan yang harus dikembangkan. Salah satunya mengenai aturan untuk memberikan upah minimum bagi pelaku musik. 

“Pemerintah akan memberikan apresiasi dan upah minimum, itu bagus. Itu ada hal yang menarik untuk dikembangkan,” kata Anang.

Dalam Pasal 37 RUU Permusikan memang disebutkan bahwa ada upah musisi. Sayangnya, upah minimum ditetapkan untuk musisi yang telah mengantongi sertifikasi.

Perihal pasal sertifikasi musisi memang menjadi salah satu pasal yang dipermasalahkan oleh para musisi. Selain itu, ada juga pasal yang dianggap mengebiri kebebasan musisi dalam mencipta lagu.

Editor           : Novianti Setuningsih
Reporter      : Aginta Kerina Barus