Akhir Saga Satu Dekade di Depan Mata: Winter is Here

Inilah dia. Musim kedelapan Game of Thrones. Akhir dari seluruh kisah perebutan takhta besi di Westeros yang sudah berjalan sejak 2010. Ketika kepala Ned Stark masih ada di tempatnya. Dalam media junket di London yang dihadiri Jawa Pos Februari lalu, sejumlah cast drama produksi HBO itu dengan senang hati menceritakan banyak hal. Tentunya bukan spoiler.

’’AKU pribadi puas dengan ending-nya. Tetapi, tentunya, aku tidak bisa mengharapkan itu dari setiap orang,’’ kata Conleth Hill mengawali sesi round table interview bersama sepuluh jurnalis dari berbagai negara. Orang nyaris tidak ingat siapa dia, dengan tubuh gembul dan rambut seputih janggut Grand Maester Pycelle. Gaya bicara lembut, nyaris diseret, tetapi menyimpan banyak makna lah yang mengingatkan kami. Varys.

Menurut Hill, akhir musim kedelapan adalah closure yang pas buat seluruh kisah yang terjalin sejak season pertama. Pertanyaan-pertanyaan yang menggantung bakal terjawab. Misteri-misteri bakal terungkap. Dan tentu saja, perang besar yang dijanjikan sejak season 7. ’’Kemungkinan bukan dalam cara yang dibayangkan fans. Tetapi, percayalah, ending serial ini mind-blowing,’’ ujar aktor asal Inggris berusia 54 tahun tersebut.

Akhir dari saga Seven Kingdom ini dipikirkan duo showrunner, David Benioff dan D.B. Weiss, sejak lama. Idenya sudah ada akhir musim ketiga, pada Juni 2013. Sejak itu, segala jalan cerita diarahkan ke sana. Termasuk memunculkan Night King, pemimpin White Walker, sebagai supervillain baru. Yang pasukannya lebih kuat dari seluruh prajurit di Seven Kingdom disatukan.

Saat itu bukannya tidak ada keraguan atau ketakutan. Kedua penulis tersebut selalu diliputi kekhawatiran kalau ada apa-apa pada para aktornya. Mereka telah menentukan nasib setiap karakter sendiri-sendiri. Termasuk mereka yang bertahan hingga akhir. Bagaimana kalau mereka sakit? Atau bosan? Atau menerima tawaran main film?

Untungnya, itu tidak terjadi. Semua –tentu saja– bersemangat kembali ke lokasi syuting setiap tahun. ’’Aku kaget dapat panggilan untuk syuting season 8. Maksudku, di antara ratusan karakter dan aku masih hidup sampai musim terakhir? Gila kan,’’ kata Richard Dormer, pemeran Beric Dondarrion. ’’Aku tidak pernah mengira karakterku menjadi begitu penting mendekati akhir,’’ imbuh dia. Kata-kata Dormer, sejatinya, adalah spoiler. Sebab, saat wawancara berlangsung, trailer yang memperlihatkan nasib Beric dan Tormund yang jatuh dari Menara East Watch by the Sea belum terungkap.

Ngomong-ngomong, mari flashback ke akhir musim lalu. Jon Snow dan Daenerys Targaryen membentuk aliansi. Mereka berlayar ke utara untuk melawan Night King. Dan terjadilah peristiwa yang diberi tagar #epicboatsex itu oleh fans. Pada waktu yang sama, Bran mendapat fakta bahwa Jon adalah anak Rhaegar Targaryen. Resmi. Bukan bastard. Yang berarti dia keponakan Daenerys.

Sementara itu, Cersei Lannister bersiap mengkhianati pakta perdamaian dengan kubu Jon-Daenerys. Dia mengirim Euron Greyjoy untuk ke Essos, menyewa tentara bayaran Golden Company. Pasukan paling mengerikan yang tidak pernah mengkhianati kontrak. Dia bersiap menjagal siapa pun yang tersisa setelah perang besar di Winterfell.

Nah, musim kedelapan Game of Thrones terdiri atas enam episode. Perang Winterfell tidak bakal ditaruh di episode terakhir. Adegan pertempurannya bakal berlangsung 55 menit dan telah dinobatkan sebagai sekuel terpanjang dalam sejarah televisi.

Sutradaranya, Miguel Sapochnik, berpengalaman menggarap klimaks musim keenam, Battle of the Bastard, yang fenomenal. Sapochnik menyutradarai episode ketiga dan kelima. Jadi, perang melawan White Walker terdapat di satu di antara dua episode tersebut.

Ada beberapa aktor yang sangat bersemangat menyambut perang besar itu. Misalnya, Maisie Williams (Arya Stark) dan Gwendoline Christie (Brienne of Tarth). Sejak season 2, mereka –sekalipun petarung ulung– selalu ’’berhasil’’ menghindari adegan perang pada akhir musim. Termasuk Battle of Castle Black (season 4), Hardhome (season 4), hingga Beyond the Wall (season 7).

’’Ya, akhirnya aku mendapat scene di perang besar,’’ kata Williams bersemangat. ’’Aku selalu merasa menjadi bagian dari pertunjukan raksasa ini. Tapi, kalau bermain di episode yang benar-benar memperlihatkan siapa kami, ya ini kali pertama,’’ paparnya.

Williams juga menyebut ending serial itu sudah tepat. ’’Tapi, seperti apa pun ending itu, fans tidak akan senang. Mereka, seperti kami, tidak senang Game of Thrones berakhir,’’ ucapnya. Seven hells, Arya. Kamu benar! (*)