Alasan “Thank You and Goodnight’ Jadi Konser Perpisahan Boyzone

JawaPos.com – Boyzone merupakan boy band legendaris dari Irlandia yang beranggotakan Keith Duffy, Mikey Graham, Ronan Keating, Shane Lynch, dan Stephen Gately. Mereka akan menggelar konser di Indonesia pada Minggu (24/3) bertajuk Thank You and Goodnight yang merupakan rangkaian tur dunianya.

Dibentuk pada tahun 1993, mereka menggapai sukses paling besar di Irlandia, Britania Raya. Setelah vakum selama tujuh tahun, akhirnya band ini memutuskan untuk kembali dan merilis album baru pada tahun 2008.

Kepergian Stephen menyisakan duka di hati Boyzone, sehingga pada 2011 mereka memilih untuk kembali bubar untuk waktu yang tidak ditentukan. Sampai akhirnya pada 2018, keempat anggota yang masih ada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri seperempat abad perjalanan Boyzone untuk selamanya lewat serangkaian tur. 

Konser bertajuk Thank You and Goodnight ini akan menjadi konser perpisahan mereka. Di Indonesia, konser tersebut digelar di Tenis Indor Senayan, Jakarta Pusat.

Saat ditanya alasan mereka memutuskan untuk bubar, Keith Duffy mengatakan mereka sudah tidak muda lagi dan merasa sudah cukup lama membentuk grup tersebut.

“Kami sudah terlalu tua. Kami mendirikan boy band ini ketika usia belasan tahun dan kami bukan lagi anak belasan tahun,” ujar Keith Duffy saat diwawancarai di kawasan Cikini Jakarta Pusat, (23/3).

Hal senada disampaikan, Shane. Ia mengatakan, mereka sudah pantas untuk berhenti setelah melewati 25 tahun bersama. Namun hal ini juga bukan berarti mereka berhenti dari dunia musik.

“Aku rasa musik adalah hal yang kami cinta untuk kerjakan selamanya, untuk sekarang kami telah mempunyai 25 tahun bersama Boyzone, kami melewati waktu demi waktu bersama, dan sekarang adalah waktunya menarik napas. Tarikan napas yang dalam dan panjang,” kata Shane Lynch.

Tidak menutup kemungkinan juga dalam waktu yang lama mereka akan kembali bersama kembali. Namun saat ini mereka merasa pilihan untuk berhenti adalah pilihan yang tepat. 

“Bila Boyzone bisa kembali lagi dalam 20 tahun atau 10 tahun, kami tak tahu, itu adalah kasus yang lain. Kami hanya berpikir ini cukup dan kami memiliki waktu yang sangat baik,” tandasnya. 

Editor           : Deti Mega Purnamasari
Reporter      : Aginta Kerina Barus