Arie Kriting Berharap Masyarakat Teredukasi dengan Film Berkualitas

JawaPos.com – Setiap tanggal 30 Maret seluruh sineas dan penikmat film tanah air merayakan Hari Film Nasional. Arie Kriting, komedi konsultan film, aktor, sekaligus komika mengaku senang dengan perfilman Indonesia saat ini yang mulai bersaing.

“Kalau kita lihat film kita itu sudah mulai berani bersain. Bahkan, ibaratnya musim liburan, film-film bagus kita berani turun, head to head  Dilan sama Avengers misalnya. Itu menunjukkan atmosfer perfilman kita udah mulai percaya diri ya. Seharusnya, kita optimis bahwa Indonesia bisa maju,” tutur Arie Kriting saat berkunjung ke kantor Jawa Pos, Jakarta Selatan, Jumat (29/3).

Ditambah lagi, lanjutnya, banyak bermunculan aktor dan aktris muda berbakat. Serta, banyak sineas muda berbakat. Oleh karenanya, Arie meyakini bahwa masa depan perfilman Indonesia akan lebih baik.

DARAH DAN DOA (Usmar Ismail | 1950) Bagian 1 (YouTube/Jurnal Footage)

Film Indonesia yang sudah mulai beragam dan mengangkat kebudayaan Indonesia serta nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika pun sudah mulai bermunculan. Bahkan, beberapa film Indonesia berjaya di festival. Namun, Arie menyayangkan karena biasanya film berbobot tidak begitu laku di pasaran.

“Biasanya kita buat film terbagi dua tuh, ada yang membuat untuk menyampaikan pesan-pesan itu (keberagaman Indonesia), ada yang buat dari segi pasar. Saya pikir, kita harus bisa mengawinkan dua itu. Ketika kita bisa membuat film begitu, artinya film dan pesan itu bisa diterima orang banyak,” jelas Arie.

Namun, Arie Kriting sadar bahwa tidak mudah mengedukasi masyarakat untuk menonton film yang bagus. Baik secara pesan yang disampaikan, sinematografi, hingga nilai ke-Indonesiaan dalam film. Hal itu yang dirasanya menjadi pekerjaan rumahh di Hari Film Nasional.

“Masyarakat kita memang harus kita edukasi, mana tontonan berkualitas dan mana yang tidak. Di YouTube saja kita tahu channel siapa yang ramai dan apa kontennya. Sementara konten-konten yang berbobot kita lihat penontonnya berapa,” tandas Arie Kriting.

Diketahui, pada tanggal yang sama, 30 Maret 1950, Indonesia mencetak sejarah dengan Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi yang merupakan film pertama dari perusahaan film Indonesia.

Kemudian, ditetapkannya tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional merupakan hasil konferensi dari Dewan Film Nasional pada 11 Oktober 1962. Keputusan tersebut akhirnya diresmikan pada masa pemerintahan BJ Habibie.

Film Darah dan Doa sendiri merupakan karya sutradara Usmar Ismail dengan penulis skenario Sirot Situmorang. Film tersebut diproduksi olah Perfini atau Perusahaan Film Nasional Indonesia yang didirikan oleh Usmar Ismail.

Produksi Darah dan Doa memicu perkembangan perfilman tanah air periode 1950 hingga 1962 dan kerap disebut sebagai awal kelahiran film Nasional. Selamat Hari Film Nasional. Maju terus perfilman Indonesia.

Editor           : Novianti Setuningsih
Reporter      : Yuliani