Dear Milenial, Boleh Jajan Kopi Tapi Jangan Keseringan

Jakarta – Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati menyindir para kaum milenial untuk mengurangi jajan kopi. Menurut dia daripada ngopi, lebih baik uangnya ditabungkan.

Tapi sebenarnya apakah bisa meskipun tetap ngopi tapi juga tetap meraih apa yang diinginkan?

Perencana keuangan, Risza Bambang menjelaskan yang paling utama dalam mengatur keuangan adalah memiliki perencanaan. Jadi seperti menyiapkan pos-pos keuangan setiap bulannya.


Menurut Risza ini sangat penting karena perencanaan yang baik dan pelaksanaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

“Anggaran ini akan jadi alat untuk pengingat diri sendiri dalam membelanjakan uang,” kata Risza saat dihubungi detikFinance, Kamis (27/9/2018).

Dia mengungkapkan, sama halnya dengan membeli kopi dan uang pensiun, harus memiliki perhitungan dana tertentu. Risza mencontohkan untuk beli kopi bisa dianggarkan 3 kali dalam satu minggu. Jadi tidak benar-benar penuh 7 hari dalam satu minggu.

“Apalagi jika milenial ini memiliki tujuan keuangan tertentu di masa depan yang ingin dia capai. Misalnya mau beli laptop tapi dua tahun lagi, kan harus dihitung anggarannya butuh berapa setiap bulannya,” kata dia.

Risza mengungkapkan dengan rencana tersebut pasti milenial memiliki keinginan untuk mengurangi frekuensi rekreasi misalnya beli kopi 3 kali dalam satu minggu. Keinginan tersebut akan membuat lebih hemat karena ingin mempercepat penambahan nilai tabungan untuk kepemilikan laptop.

Selain itu, dana yang dimiliki juga bisa dimasukkan ke tabungan atau investasi yang memberikan bunga yang cukup tinggi dengan risiko yang kecil Sehingga akan mempercepat pembelian laptop dari rencana awal.

Milenial juga harus lihai dalam mencari promosi penjualan, misalnya kredit tanpa uang muka dalam 1 atau 2 tahun, ini adalah peluang untuk mengoptimalisasi penghematan anggaran menjadi cicilan pembelian sehingga tak perlu menunggu 2 tahun.

“Namun hal ini hanya direkomendasikan bagi pribadi yang sudah mampu menguasai atau mengelola keinginan membelanjakan anggaran, jika tidak maka justru akan menambah beban pengeluaran yang akan merusak perencanaan keuangan,” ujarnya.

(kil/eds)