Dialog Tak Jawab Pertanyaan, Banyak Musisi Tetap Tolak RUU Permusikan

JawaPos.com – Banyak musisi yang menyampaikan pendapatnya terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan dalam dialog yang dihelat Senin (4/2) ini. Tak sedikit musisi yang menolak RUU yang masih berupa draft tersebut. 

Ditemui usai diskusi, drummer Pas Band, Shandy tetap menyatakan penolakannya terhadap draft RUU Permusikan. Terutama, Pasal 5 yang dianggap bisa mengebiri kreativitas musisi. Sebab, setiap musik dihasilkan dari sebuah rasa.

“Yang paling hakiki adalah Pasal 5, tentang pengibirian proses kreatifnya. Sementara kita tahu seniman, siapapun itu semua kan membuat karya dari apa yang dia lihat, apa yang dia rasa, apa yang dia dengar. Kalau itu dikebiri, ibarat loe bikin nasi goreng nggak pakai mecin, nggak pake kecap,” kata Sandy.

Dialog Tak Jawab Pertanyaan, Banyak Musisi Tetap Tolak RUU PermusikanGlenn Fredly dan Anang Hermansyah memimpin jalannya dialog mengenai RUU Permusikan, Senin (4/2). (Imam Husein/Jawa Pos)

Hal senada juga disampaikan Danilla Riyadi. Bahkan, dara manis ini mengaku belum puas dengan dialog yang digelar karena menurutnya belum menjawab banyak pertanyaan musisi yang hadir.

“Saya pribadi masih ngerasa belum terjawab. Sebetulnya saya lebih suka meretas pasalnya satu persatu terus ngomong, untuk memastikan mas Anang sebagai musisi dan pelaku seni juga memikirkan masalah sensitif ini. Dan aku tetap menolak adanya RUU,” tegas Danilla.

Penolakan juga datang dari musisi Armand Maulana. Suami Dewi Gita ini terangan-terangan menyebut beberapa pasal berpotensi tidak baik bagi para musisi. Oleh karena itu, dia menolak RUU Permusikan disahkan.

“Saya menolak kalau RUU permusikan tetep seperti ini. Ada pasal yang bagus ada, nggak semuanya jelek. Cuma kan tiba-tiba dari sekian puluh pasal ada beberapa pasal yang karet, yang urgensinya buat apa. Kalau kaya gini, tiba-tiba ada RUU yang sebetulnya ada pasal-pasalnya yang lebih bagus kan ngapain maksud gua,” kata Armand Maulana.

Diketahui RUU Permusikan yang resmi masuk ke dalam program legislasi nasional (prolegnas) 2015-2019, menjadi sorotan beberapa musisi. Banyak di antaranya tidak sepakat dengan RUU. Bahkan, ratusan musisi membentuk Koalisi Nasional untuk menolak RUU Permusikan. Sebab, dianggap mengandung banyak aturan yang kurang tepat. 

Beberapa di antaranya dinilai membuat kreativitas para musisi dibatasi dan mengandung pasal yang tidak masuk dalam pemikiran. Contohnya, Pasal 5 yang dinilai akan membatasi kreativitas musisi.

Sebab, dalam salah satu ayatnya melarang musisi membuat karya yang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, dilarang membuat konten pornografi, dilarang memprovokasi pertentangan antarkelompok, dilarang menodai agama, dilarang membawa pengaruh negatif budaya asing dan dilarang merendahkan harkat serta martabat manusia.

Oleh karena itu dikhawatirkan bisa dipelintir sesuai keingingan pelapor atau penegak hukum. Padahal, ada hukuman pidana bagi musisi yang melanggar aturan itu pada Pasal 50. Walau belum diatur berapa lama hukuman yang bisa dijatuhkan.

Kemudian, ada Pasal 32 yang menjelaskan tentang uji kompetensi musisi. Dengan kata lain, setiap musisi yang ingin diakui oleh negara dan diakui secara hukum harus mengikuti uji kompetensi. Musisi yang tidak mengikuti uji kompetensi bisa dikatakan melanggar hukum bila RUU Permusikan disahkan

Editor           : Novianti Setuningsih
Reporter      : Aginta Kerina Barus