Istana Beberkan Bedanya Ekonomi RI Sekarang dan 20 Tahun Lalu

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2018 5,27% meningkat dibandingkan periode kuartal II 2017 5,01%.

Staf Khusus Presiden bidang ekonomi, Ahmad Erani Yustika, menjelaskan ekonomi Indonesia saat ini lebih baik jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu atau tahun 1998. Menurut dia, saat itu pertumbuhan ekonomi tak terasa dampaknya ke masyarakat.

“Sejak 20 tahun yang lalu, Indonesia bukan negara yang hebat. Sebagian masyarakat merasa pembangunan tak ada manfaatnya. Pembangunan justru ada ketimpangan,” kata Erani dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9/2018). Jakarta, Rabu (26/9/2018).


Erani mengungkapkan, ekonomi Indonesia dulu tak membuat masyarakat sejahtera. Kondisi itu sudah jauh berbeda dengan saat ini.

“Saat ini ada program-program seperti dana desa, reforma agraria, beras sejahtera, program keluarga harapan, pajak final UMKM yang turun dan yang paling miskin itu dilindungi,” imbuh dia.

Dengan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini ketimpangan di Indonesia sudah mulai turun dan membaik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang terus mendorong terciptanya pemerataan ekonomi secara nasional. Tujuannya tak lain adalah demi pembangunan bisa dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga di berbagai belahan Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian pemerintah mengingat penduduk miskin dan penduduk yang masuk 40% terbawah secara ekonomi justru berada di pedesaan, terutama di desa-desa yang lokasinya terpelosok. Hal itu menandakan, kesenjangan antara penduduk kaya dan penduduk miskin semakin sempit. Saat ini tingkat ketimpangan terendah dalam 6 tahun terakhir, yaitu Rasio Gini sudah turun menjadi 0,389.

Rizal Ramli soal Krisis 98

Dalam acara yang sama, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan periode 1997-1998 nyaris mirip dan hampir tak ada bedanya.

“Dulu Rizal Ramli meramalkan pada Oktober 1996, jika Indonesia akan memasuki krisis 1997-1998, alasannya sederhana bank swasta terlalu banyak, current account deficit terlalu besar dan rupiah undervalued,” kata Rizal.

Dia menjelaskan, saat itu banyak pihak yang membantah prediksinya soal krisis. Namun ada pula pengusaha yang mendengarkan prediksinya sehingga pengusaha itu bisa bebas dari krisis.

“Ada juga pengusaha yang mendengarkan dan ambil langkah preventif, ada juga yang sok jago dan sok ngerti dia tetap ambil kredit jor-joran tapi apa yang terjadi?” ujar dia.

Rizal menjelaskan, saat krisis 97/98 transaksi berjalan defisit sekitar US$ 4,98 miliar dan saat ini defisit US$ 8 miliar. Kemudian cadangan devisa saat ini dinilai masih cukup baik berada di kisaran US$ 117,9 miliar.

Kemudian, dia memprediksikan current account deficit (CAD) Indonesia hingga akhir tahun ini hanya berkurang US$ 1 miliar dari prediksi bank sentral tersebut atau sebesar US$ 24 miliar. Hal ini lantaran pemerintah hanya menerapkan kebijakan yang berdampak kecil bagi laju impor.

“CAD BI sendiri ramal US$ 25 miliar. Dengan langkah-langkah printil ini paling hanya kurang US$ 1 miliar,” ujar Rizal

Bank Indonesia (BI) sebelumnya memprediksi CAD hingga akhir tahun sebesar 2,5% terhadap PDB. Angka ini telah memperhitungkan dampak dari kebijakan penggunaan biodiesel 20 persen (B20), pembatasan impor, hingga rencana penundaan sejumlah proyek infrastruktur maupun migas. (kil/dna)