Jawab Kritik Prabowo dan Rizal Ramli, Kemenkeu: Ekonomi RI Bergerak

Jakarta – Calon Presiden Prabowo Subianto menilai kondisi ekonomi Indonesia rawan dan sangat serius. Pernyataan ini disampaikan usai bertemu beberapa ekonom di kediamannya Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat malam (5/10/2018).

Tak cuma Prabowo, Rizal Ramli yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, juga menyebut kondisi ekonomi Indonesia lampu merah, bahkan dia mengibaratkan Indonesia seperti tubuh yang sakit.

Merespons pernyataan tersebut, pihak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) buka suara.



“Karena lampu merah berarti semuanya berhenti, pada kenyataannya kehidupan perekonomian tetap bergerak,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (6/10/2018).

Ekonomi Indonesia masih bergerak di level yang baik, dengan pertumbuhan ekonomi di level 5%, inflasi terkendali di level rendah, daya beli masyarakat terjaga, kondisi perbankan nasional masih sehat, bahkan penerimaan negara realisasinya bagus.

Pemerintah, kata Nufransa juga sudah menerbitkan beberapa kebijakan untuk memperbaiki beberapa indikator ekonomi seperti transaksi berjalan melalui penggunaan biodiesel 20% (B20), peingkatan tarif PPh impor untuk barang tertentu serta stimulasi industri pariwisata.

“Jadi artinya pemerintah tidak berpangku tangan, dan juga senantiasa memonitor perkembangan yang terjadi sehingga sewaktu-waktu dapat dilakukan penyesuaian kebijakan sesuai perkembangan,” ujar dia.

Nufransa menambahkan pelemahan nilai mata uang tidak hanya dialami rupiah saja, melainkan juga mata uang negara emerging market. Hal itu juga dipicu oleh kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta situasi geopolitik regional yang menghangat sehingga menimbulkan ketidakpastian.

Selanjutnya, pekan ini di Italia ada rencana peningkatan defisit fiskal untuk tahun 2019 sebanyak tiga kali lipat dari target awal di Italia yang membuat nilai tukar Euro melemah dan US$ semakin menguat.

“Hal ini disebabkan semakin banyaknya investor yang melepas Euro sebagai dampak kekhawatiran terhadap prospek perekonomian Italia,” jelas dia.

Dinamika global yang sekarang terjadi, kata Nufransa tidak perlu dikhawatirkan namun tetap mewaspadinya.

“Jadi bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan namun tetap kami waspadai. Semuanya akan menuju titik keseimbangan baru atau the new normal,” tutur Nufransa. (hek/hns)