Kanjeng Sepuh, Negeri Ini Butuh Jiwa Anak-anak

JawaPos.com – Marcopodo dikisahkan sudah tak lagi memiliki jiwa kanak-kanak. Padahal, kedewasaan bisa membuat negeri itu bubar. Kyai Semar sebagai pembawa berita dalam pewayangan mengatakan bahwa Nusantara akan menjadi negeri yang adil makmur dan sejahtera. Sebab, Srikandi akan menitis dan mencari Arjunanya.

“Mengabarkan pada dunia melalui kamu bahwa negeri nusantara akan berubah jadi negeri adil makmur, gemah ripah lojinawi. Kalau Srikandi sudah menitis akan tercapai negeri itu,” kata Kyai Semar pada pemain wayang yang sudah tua dalam mimpinya.

Pada awalnya, tak ada yang percaya dengan pemain wayang tua yang sudah dimakan zaman. Perkataannya dianggap hanya ucapan ngawur. Hingga muncul lah seorang perempuan muda dan terkenal yang hendak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

Haus akan kekuasaaan, ia pun mengklaim diri sebagai titisan Srikandi. Bahkan, menghalalkan segala cara untuk menguatkan hal itu. Hingga, meminta restu pada orang yang dituakan, Kanjeng Sepuh.

Itu adalah cuplikan dari pementasan ke-31 Teater Indonesia Kita bertajuk Kanjeng Sepuh yang dipentaskan 22-23 Maret 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Melibatkan sejumlah pemain wayang kawakan, seperti Sujiwo Tejo, Butet Kartaredjasa, Marwoto, Yu Ningsih, Wisben dan Joned, pementasan  ini sukses dihelat. Selain itu, pentas semakin semarak dengan kehadiran Soimah, Wulan Guritno, Endah Laras, Rita Tila, Sahita, Cak Lontong dan Akbar.

Kanjeng Sepuh, Negeri Ini Butuh Jiwa Anak-anakCak Lontong membuat pementasan ‘Kyai Sepuh’ lebih berwarna dengan guyonannya yang khas, yakni menyebalkan. Ia selalu bisa membuat lawan mainnya, Akbar jengkel. (Yose Riandi/Kayan Production)

Di awal pentas, sutradara Sujiwo Tejo dan Agus Noor selaku penulis naskah menggunakan latar kuburan dan anak-anak yang sedang bermain. Mereka ingin menunjukan bahwa kuburan adalah tempat yang netral. Sekaligus, sindiran mengenai kurangnya ruang untuk bermain.

“Kami belajar politik disini. Di sini damai tenang, makanya kalau golput (tak memilih) kayak kuburan. Itu makanya jangan golput,” sindir Cak Lontong saat berakting menjadi pekerja proyek bersama rekannya Akbar.

Tetapi, di kuburan itu lah Kyai Semar (Butet Kertaradjasa) muncul dalam mimpi Marwoto (pemain wayang tua). Ia menyampaikan kabar bahwa Srikandi akan menitis dan mencari Arjunanya.

Latar berubah menjadi sanggar wayang ketika Soimah muncul. Sebagai pemain wayang kini sudah terkenal, ia kembali untuk mencari dukungan karena akan maju sebagai calon anggota legislatif (caleg).

Berperan sebagai orang kaya yang sombong, Soimah sukses membuat penonton tertawa dengan candaannya bersama Yu Ningsih dan Sahita. Menggunakan uang dan janji palsunya, Soimah sukses mengklaim diri sebagai titisan Srikandi.

Tetapi, seperti hendak menyidir proses politik di negeri ini, Soimah pun belum mantap sebelum mendapat restu dari Kanjeng Sepuh (Sujiwo Tejo), orang yang dituakan. Segala upaya dilakukan Soimah demi mendapat restu tersebut.

Rupanya Soimah mendapat saingan dari Yu Ningsih yang juga mengaku sebagai titisan Srikandi. Pertengkaran keduanya pun kerap terjadi. Bukannya membuat jengkel penonton, sebaliknya adu kuat antara Soimah dan Yu Ningsih kerap membuat penonton tertawa.

Kanjeng Sepuh, Negeri Ini Butuh Jiwa Anak-anakSujiwo Tejo sebagai Kanjeng Sepuh beradu peran dengan Wulan Guritno, istrinya. (Yose Riandi/Kayan Production)

Mengetahui Srikandi akan menitis dan mencari Arjuna, para pria yang ada di Marocopodo geger. Satu per satu mulai mengaku dirinya sebagai titisan Arjuna. Termasuk Cak Lontong.

Memiliki perawakan yang gagah dan masih muda, tak sulit buat Cak Lontong mengklaim dirinya sebagai titisan Arjuna. Apalagi, ia sudah terlanjur kepincut dengan kecantikan dan kekayaan Soimah.

Merasa ada yang salah, Marwoto sebagai titisan Kyai Semar berusaha meluruskan benang yang kusut. Ia menguji semua perempuan yang ada di Marcopodo. Melalui fit and proper test, terbukti bahwa Yu Ningsih adalah titisan Srikandi yang sebenarnya.

Kemudian, terungkap bahwa titisan Arjuna adalah Kanjeng Sepuh. Jadilah, Srikandi dan Arjuna menitis pada orang yang sudah tua. Sebagaimana pesan di awal bahwa negeri ini butuh jiwa anak-anak.

Jiwa anak-anak tersebut berusaha digambarkan melalui sosok orang yang sudah sepuh. Sebab, semakin tua, orang dipercaya akan semakin kekanak-kanakan.

“Kedewasaan yang membuat negara ini akan bubar. Negara ini kurang jiwa anak-anak. Anak-anak pagi berantem, sore sudah main bareng lagi. Nggak ada embel-embel minta kekuasaan dan lain-lain,” kata Sujiwo Tejo.

Namun, Butet Kertaradjasa mengingatkan bahwa pentas Kanjeng Sepuh bukan dibuat lantaran tak lama lagi Indonesia akan menggelar Pemilhan Umum (Pemilu).

Memiliki tema yang sama, dalam sambutannya, Butet beharap Kanjeng Sepuh bisa menginspirasi.

“Bagaimana pun Indonesia yang kita impikan sama. Indonesia yang sentosa dan sejahtera,” tutupnya.

Penasaran dengan pementasan Teater Indonesia Kita? Pentas ke-32 akan digelar 5-6 Juli 2019.

Editor           : Novianti Setuningsih