Menjamurnya Film Indonesia Tak Sebanding dengan SDM Perfilman

JawaPos.com – Perfilman Indonesia memang sedang bergairah, terbukti dengan banyaknya film yang bermunculan setiap minggunya hingga menjamur. Namun siapa sangka, dibalik semua itu, perfilman Indonesia justru krisis sumber daya manusia (SDM).

Banyak orang mencoba untuk membuat film yang terbaik dan tidak sedikit juga produser-produser yang sudah mempunyai nama atau ahli dalam bidangnya bersemangat dalam memproduksi film. Bukan setiap tahun, melainkan setiap minggu judul-judul film Indonesia bermunculan.

Namun keterbatasan kru dan pemain film yang dibutuhka serta berpengalaman membuat para produser film harus mengantre atau dulu-duluan booking. Sebagai produser dan sutradara, Joko Anwar mengakui bahwa perbandingan produksi film setiap tahunnya tidak sebanding dengan jumlah kru bahkan pemain film.

“SDM sekarang memang kurang, karena memang kalau dilihat dari jumlah film yang diproduksi setiap tahunnya sudah mencapai  140 judul film per tahun. Tentunya dengan banyak produksi film akan banyak dibutuhkan juga kru film dan pemain film gitu,” kata Joko Anwar saat di hubungi oleh JawaPos.com, Minggu (14/4). Poster film Nikah Yuk yang dibintangi Marcell Darwin dan Yuki Kato. (Instagram/marcelldarwin)

Kekurangan SDM itu membuat sesama produser harus lebih dulu mem-booking kru atau pemain film dari jauh sebelum produksi film dimulai. Jika syuting akan dilakukan tahun depan, maka mulai tahun ini booking para kru dan pemain harus sudah dilakukan, sedangkan setiap tahunya ratusan film di produksi.

“Indonesia sekarang ini sangat kekurangan sekali sumber daya manusia di film kru maupun pemain, karena kalau mau syuting film kita harus berebutan. Setiap tahunnya kita harus produksi banyak film. Kalau memproduksi film, kami selalu berebutan sesama produser, jadi produser kalau mau bikin film berebutan kru dengan produser lain,” ujarnya.

Joko Anwar berharap lebih banyak lagi tempat-tempat pendidikan untuk perfilman dalam berbagai bidang. Hal tersebut agar ke depannya perfilman Indonesia tidak kesulitan lagi untuk mencari SDM.

“Solusinya mungkin setiap pemangku kepentingan bisa membuat semacam inkubasi untuk sumber daya manusia di film. Kalau pemerintah membuat inkubasi penulis skenario yang sekarang juga sangat dirasa kurang banget,” paparnya.

Ia mengungkapkan, kurangnya tempat pendidikan formal maupun informal terkait film juga menjadi salah satu penyebab kurangnya SDM. Di Jakarta saja, katanya, ada sekitar 5 jurusan film di universitas.

“Tapi sekolah film tidak ada, dan di Indonesia itu bisa dihitung dengan jari tangan, kurang dari 10 universitas yang memiliki jurusan film, sedangkan produksi Indonesia sudah mencapai 259 juta,” pungkasnya.

Editor : Deti Mega Purnamasari

Reporter : Aginta Kerina Barus