Peneliti: Saatnya Pancasila ditampilkan sebagai ideologi terbuka

Jakarta (ANTARA News) –  Pancasila sudah saatnya ditampilkan sebagai ideologi terbuka, dinamis, dan diimplementasikan dalam bentuk inovasi-inovasi baru, kata peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Dr Adnan Anwar.

“Sudah saatnya ada semacam penyegaran bagaimana Pancasila sebagai ideologi yang luar biasa menarik ini untuk ditampilkan sebagai ideologi terbuka yang dinamis, dialogis, yang meletakkan masyarakat warga negara ini sebagai subjek untuk menggerakkan ideologi ini,” katanya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Kamis (4/10) malam.

Ia menilai sejak reformasi bangsa Indonesia seperti kurang percaya diri dengan ideologi Pancasila. Hal ini tak dapat dipungkiri karena selama era Orde Baru ideologi Pancasila ditampilkan sebagai ideologi tertutup yang represif.

Akibatnya, ketika datang era reformasi yang berseiring dengan kuatnya liberalisasi dan arus globalisasi maka masyarakat Indonesia mulai banyak menengok pada ideologi di luar Pancasila.

Baca juga: Lily Wahid sebut waktunya Pancasila diamalkan, bukan diperdebatkan

“Mereka terpengaruh ideologi-ideologi Barat yang ada di Eropa atau di Amerika atau dari beberapa negara Islam,” kata Adnan.
Maka, lanjut Adnan, masuklah paham radikal teroris yang mengancam kebinekaan bahkan keutuhan bangsa ini.

Untuk membangkitkan lagi semangat Pancasila, menurut Adnan,  ideologi ini harus digerakkan di level masyarakat dengan melibatkan seluas-luasnya partisipasi masyarakat, kelompok adat, raja-raja nusantara, kelompok pemuda milenial, kelompok pengusaha dan sebagainya.

“Level pemerintah punya batas untuk menggerakkan ini karena terbentur soal anggaran, kewenangan, dan macam-macam,” katanya.

Secara terpisah pakar deradikalisasi Dr Suhardi Somomoeljono mengatakan bila Pancasila ditegakkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maka Indonesia bukan saja jaya sebagai sebuah negara, tetapi juga kebal menghadapi berbagai ancaman yang bisa memecah belah bangsa seperti intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Baca juga: BPIP: Pancasila surplus wacana, tapi defisit tindakan

Baca juga: Survei: Jokowi capres paling konsisten perjuangkan Pancasila

Pewarta: Sigit Pinardi
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018