Pentingnya Pertolongan Pertama Korban Serangan Jantung

Tangerang: Banyak kasus serangan jantung terjadi tanpa bantuan dan pertolongan pertama yang tepat, menjadikan serangan jantung sebagai penyebab pertama terbesar kematian di dunia.

Padahal, jika di sekitar orang terkena serangan jantung atau heart attack mengetahui cara menolongnya, kematian akibat serangan jantung bisa dihindari. 

Sari Sri Mumpuni, Sp.JP (K), FIHA Spesialis Jantung dan Pembulu Darah Konsultan Kardiologi Intervensi Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro menerangkan, orang dengan heart attack bisa dibantu dengan melakukan Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP). 

“Saat seseorang mengalami henti jantung ataupun heart attack, hal yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah bantuan dari orang yang ada di sekeliling kita dengan cara CPR atau RJP yang baik dan benar,” katanya di Grand Room Edu Center BSD Tangerang, Sabtu 29 September 2018. 

Namun sayangnya, masih banyak kalangan yang belum mengetahui dan memahami bagaimana melakukan RJP dengan baik dan benar.

“Jadi ketika menemui kasus seperti ini, kita hanya punya waktu 4 sampai 10 menit untuk menolong orang dengan serangan jantung (golden time). RJP atau bantuan hidup dasar ini bisa kita lakukan dengan mengompresi atau menekan di dinding dada penderita untuk memastikan jalan napas, kemudian rebahkan yang bersangkutan pada posisi nyaman dan bawa segera ke Rumah Sakit,” ucapnya. 

Diterangkan dia, serangan jantung tiba-tiba ini memiliki beberapa ciri-ciri, seperti korban tidak sadarkan diri, korban tidak bernapas, diam saja. 

“Maka kalau korban sedang beraktivitas tiba-tiba langsung terhenti. Kalau berdiri dia bisa terjatuh,” katanya.

(Baca juga: Pentingnya Pengertian tentang Paralatan dan Penanganan P3K)


(Komunitas olahraga Tangerang, mengikuti pelatihan pertolongan pertama korban serangan Jantung, Sabtu 29 September 2018 di Edu Town, BSD Tangerang. Foto: Dok. Medcom.id/Farhan Dwitama)

Sari menerangkan, meski datang tiba-tiba, korban serangan jantung biasanya telah merasakan berbagai gejala berupa nyeri dibagian tengah dada yang menjalar ke rahang punggung dan hingga ke bagian lambung. 

“Serangan jantung ini tidak mengenal usia, atau kegiatan apa yang sedang kita lakukan. Maka sebaiknya, saat usia menginjak 40 tahun sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan darah, kolesterol, gula darah,” kata dia. 

Ivan Muliadi, Direktur Siaga menjelaskan, pentingnya masyarakat mengetahui pertolongan pertama bagi korban serangan jantung atau tersedak. 

“Keluarga atau orang di sekitar adalah yang pertama, seharusnya bisa memberikan pertolongan. Karena kalau hanya mengandalkan bantuan medis atau ambulan datang bisa jadi justru terlambat dan tak tertolong,” kata dia. 

Pertolongan pertama bagi korban serangan jantung, lanjut dia dengan memberikan kompresi ke bagian dada korban sebanyak 30 kali. Selanjutnya, bantuan napas kepada korban juga bisa dilakukan. 

“Kompresi 30 kali, bantuan napas tapi kalau tidak mengenal orangnya jangan memberikan napas buatan untuk menghindari penyakit menular dari korban,” kata dia. 

Menurut dia, penyebaran pengetahuan dan pemahaman pertolongan pertama korban serangan jantung atau tersedak sangat penting guna menghindari kekeliruan yang selama ini dilakukan masyarakat.

“Jadi mitosnya ini banyak, justru ini membahayakan si korban. Seperti dengan kebiasan mengerik badan, karena disangka masuk angin. Lalu kalau kita tersedak juga jangan diberikan minum, harusnya keluarkan dulu atau menekan perut dari belakang, jadi mitos mitos seperti ini yang salah dan membahayakan korban, maka masyarakat mesti diedukasi yang baik dan benarnya,” terang dia. 

Dewi Serdina, dari Soulmate Badminton Club Bekasi, mengaku sudah beberapa kali menyaksikan pecinta olahraga Badminton yang meninggal dunia usai bertanding.

“Dugaanya mereka ini kena serangan jantung karena kelelahan. Biasanya saat istirahat korban beristirahat, dia duduk dan tiba-tiba tak bangun lagi. Ini beberapa kali saya lihat sendiri,” terangnya.

(TIN)