RUU Permusikan Memuat Banyak Terminologi Abstrak

JawaPos.com – Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan kembali menyuarakan sikap terkait rancangan peraturan tersebut. Mereka menyebut bila lolos sebagai undang-undang, kecil peluangnya bisa dibatalkan di Mahkamah Konstitusi (MK). Apalagi, di MK ada perwakilan DPR yang merupakan inisiator RUU.

Juru Bicara Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan Wendy Putranto menegaskan bahwa koalisi mereka memiliki dasar yang jelas untuk menolak RUU tersebut. “Kami ngobrol dulu dengan teman-teman yang pro dan kontra revisi. Tapi yang jelas, kita punya dasar-dasarnya menolak,” jelas Wendy setelah diskusi di Kemang kemarin.

Salah satunya adalah ketidakjelasan definisi dalam RUU tersebut. Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menjelaskan, RUU tersebut terlalu banyak mencantumkan terminologi yang abstrak. Bila RUU itu lolos digedok DPR, ke depan para musisi bisa dirugikan. Misalnya, kata mendorong, memprovokasi, dan penistaan. Penafsiran terhadap kata-kata tersebut luas.

Asfinawati menegaskan, tidak ada batasan atau tolok ukur jelas terkait tindakan provokasi atau penistaan sebagaimana yang diatur dalam RUU tersebut. “Seharusnya, ada definisi yang jelas seperti pencurian. Karena ini nanti dikenai hukum pidana,” terangnya.

Dia menyatakan siap mengawal para musisi yang tergabung dalam koalisi tersebut. Sebab, pembahasan RUU itu dinilai masih cacat. Meski sudah masuk program legislasi nasional (prolegnas), masih ada kemungkinan untuk membatalkan pemberlakuannya.

Asfinawati menjelaskan, secara prosedural, pencabutan UU setelah disahkan bisa dilakukan dengan mengajukan judicial review (JR) ke Mahkamah Konstitusi (MK). Meski demikian, masukan lebih baik diberikan ketika masih berbentuk RUU. Sebab, bila telah berbentuk undang-undang, musisi tidak bisa berharap banyak. Apalagi, dalam komposisi hakim MK, salah satunya adalah perwakilan DPR yang merupakan inisiator undang-undang.

Koalisi tersebut menyatakan siap berdiskusi dengan para musisi yang pro dan kontra revisi RUU. Glenn Fredly sebagai perwakilan dari kubu yang pro diundang untuk diskusi lebih lanjut kemarin malam. Glenn menyatakan, salah satu motivasinya dalam mendukung RUU tersebut adalah agar ada keadilan untuk para musisi. Terutama untuk mendapatkan hak-haknya.

Namun, dia mencatat, RUU yang dibahas saat ini tidak boleh ditunggangi kepentingan-kepentingan lain yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan industri musik. “Saya minta kepada teman-teman (legislatif) bagaimana menyosialisasikan RUU ini agar tidak hanya untuk kepentingan elite politik,” jelasnya. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (deb/c6/git)