Situasi Emergency Memengaruhi Psikologis Seseorang

Jakarta: Pasca bencana gempa dan tsunami di Palu pada Jumat lalu, kabar terjadinya penjarahan sempat marak terdengar. Jika benar itu terjadi, menurut dokter jiwa, hal itu tak mengherankan. 

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto sendiri menyebutkan bahwa, “Beberapa tempat barangkali ada yang liar, kita akan cek,” kata Wiranto di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin, 1 oktober 2018 sebelumnya.

Lalu apa yang menyebabkan situasi emergency memengarugi seseorang? “Pada situasi emergency seperti sekarang ini, itu adalah relasi normal pada situasi abnormal,” pungkas dr. Eka Viora, SpKJ selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jakarta dalam temu media, Selasa 2 Oktober 2018 lalu. 

(Baca juga: Wiranto akan Cek Kabar Penjarahan di Palu)

Menurutnya, tindakan (pengambilan atau penjarahan) tersebut merupakan bagian dari tahapan Model Kübler-Ross, yang juga dikenal dengan sebutan Lima Tahapan Kedukaan (The Five Stages of Grief). 

“Saat ini para korban sedang dalam tahapan kedua, yaitu marah. Dampaknya bisa melakukan perilaku yang macam-macam.” 

Apalagi, situasi bencana seperti beban akar yang sulit, listrik belum menyala, dan stok makanan yang terbatas dapat memicu gangguan pada kondisi sosial dan psikososial korban. 

Pada umumnya, sebanyak 80 persen korban bencana terdiagnosis mengalami masalah mental terkait kejadian yang dialaminya. Namun, setelah dilakukan dan pengobatan yang tepat, hanya 15 persen yang masih mengalami gangguan tersebut. Biasanya, gangguan yang dialami adalah depresi dan trauma. 

“Stres pascatrauma umumnya baru muncul 4-6 bulan setelah bencana terjadi,” tambah ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia DR. Indria Laksmi Gamayanti, MSi pada kesempatan yang sama. 

Teori Kübler-Ross terdiri dari lima tahapan. Pertama, penyangkalan yang merupakan pertahanan sementara pada diri sendiri. Kedua, marah yang menyadari bahwa dirinya lelah menyangkal keadaan tersebut.

Ketiga, menawar di mana seseorang memberikan harapan untuk menunda datangnya keduakaan. Kemudian, depresi di mana seseorang memilih untuk meratapi dirinya dan memutuskan hubungan dengan orang sekitar. Terakhir, penerimaan di mana seseorang pasrah. 

(TIN)