Sophie Turner-Maisie Williams Bersama-sama hingga Akhir GoT

Sama-sama memulai Game of Thrones saat masih anak-anak, jadi soul sisters di luar lokasi syuting, kini Sophie Turner (Sansa Stark) dan Maisie Williams (Arya Stark) siap mengarungi kerasnya kehidupan di Hollywood bersama-sama. Berikut obrolan mereka dengan wartawan Jawa Pos RETNA CHRISTA dalam media junket di London Februari lalu.

So, girls, apa yang terjadi pada karakter kalian di season 8?
Sophie (ST): Haha, apa ya… Nothing!

Maisie (MW): Yeah, nothing. Nggak ada yang boleh diceritakan, hahaha!

Oke, satu per satu. Arya berubah dari gadis kecil yang manis menjadi pembunuh brutal. Bagaimana kamu mengembangkan karakter itu?
MW: Aku harus berterima kasih kepada para penulis serial ini. Mereka tidak menciptakan pahlawan. Mereka menulis orang sungguhan yang punya kelemahan. Fans marah ketika musim lalu Arya dan Sansa nyaris berkonflik. Itu menunjukkan bahwa nggak ada karakter yang bisa didukung sepanjang waktu.

Bagaimana dengan Sansa? Perkembangan karakternya sangat menarik, hingga puncaknya musim lalu. Apa yang dia lakukan di season 8?
ST: Sansa berangkat dari gadis kecil yang bermimpi menikahi pangeran. Gadis yang menganggap hidup ini dongeng belaka. Setelah mengalami berbagai hal buruk, kini dia tahu apa yang dia inginkan, apa yang paling berarti. Yaitu, keluarga, kampung halaman, survival. Dia tampak selfish. Tapi, itu dilakukan untuk melindungi hal-hal yang penting bagi dia. Itulah yang kita lihat mulai musim lalu. Dia sangat protektif pada Jon, pada Winterfell. Oh ya, dia juga sangat enjoy jadi leader.

Sifat Stark Sisters ini kan bertolak belakang. Bagaimana mereka akhirnya bersatu?
MW: Kita bisa lihat musim lalu keduanya sama-sama kaget betapa mereka telah berubah dari kali terakhir bertemu. Yang itu adalah akhir season 1, tahun 2011. Mereka sama-sama melalui banyak hal. Mereka berusaha keras untuk saling memahami. Dan, akhirnya saling memuji. Arya bilang, dirinya nggak mungkin survive jika merasakan apa yang Sansa alami. Sansa juga bilang begitu soal Arya. Mereka harus bekerja keras untuk bersatu.

ST: Kurasa mereka kini saling menerima individualitas masing-masing. Dulu kan Sansa pikir Arya childish. Arya pikir Sansa bodoh. Kini mereka punya skill masing-masing dan saling respek. Mereka menyadari bahwa kekuatan mereka jauh lebih besar. Dan, kalau mau bersatu, mereka bisa jadi lebih kuat daripada apa pun.

Kalian bisa dibilang tumbuh bersama-sama dengan serial ini. Bagaimana kalian melihat perkembangan karakter terkait relasi Sansa dan Arya?
MW: Awalnya, sebagai anak-anak, peran kami sangat ringan. Tapi, ketika plot Arya menjadi lebih gelap, aku bertambah usia, pengalaman hidup juga lebih banyak, hahaha. Kelekatan kami terhadap karakter juga terasa makin nyata. Tapi, aku senang karakterku nggak harus mengalami banyak hal buruk sampai usiaku lebih dewasa.

ST: Menurutku, cara terbaik untuk survive di industri ini adalah mendapatkan teman-teman yang tepat. Aku dan Maisie tumbuh bersama-sama dan kini kami sama-sama mendapatkan konfidensi untuk mengambil proyek-proyek lain di Hollywood. Kami seperti sudah disiapkan untuk menghadapi apa pun. Bahkan, kami mendapat sex education saja dari GoT. Pada saat masih kecil banget pula.

MW: Dengan kakakmu kan? Aku tahu (merujuk hubungan Cersei-Jaime, Red).

ST: Hahaha, ngaco.

Bagaimana karakter Sansa dan Arya memengaruhi kalian sebagai individu?
ST: Aku menghabiskan seluruh masa remajaku sebagai Sansa. Dia sudah menjadi bagian dari diriku. Aku nggak mungkin jadi seperti sekarang tanpa Sansa. Kurasa aku harus berterima kasih kepadanya (Sansa, Red).

MW: Aku pernah mengalami kemarahan remaja. Aku marah dan kesal pada seluruh dunia. Aku menganggap semuanya terlalu serius. Termasuk kegiatan seperti ini (bertemu media, Red). Belum lagi kehebohan di internet. Kupikir, Arya juga sempat mengalami fase itu. Saat dia mulai bikin daftar orang-orang yang akan dia bunuh. Aku kayak gitu juga lho, hahaha. Enggak, enggak. Tapi, jelas aku banyak belajar dari Arya. Seperti caranya menangani kesulitan. Dia selalu berapi-api.

Setelah terpisah lama, sejak season 7 kalian berada dalam satu unit lokasi syuting. Seru ya?
MW: Kami ngobroool melulu.

ST: Kadang kami berpikir, para kru pasti bete melihat kami. Sebab, kami bercanda terus. Kami menjadikan setiap adegan itu bahan guyonan. Untung, syutingnya beres.

Penonton bereaksi keras saat Sansa diperkosa Ramsay. Bagaimana menurut kalian? Adakah bagian dari skrip yang menurut kalian keterlaluan?
MW: Fans, menurutku, sangat devoted. Fakta bahwa serial ini menuai kecaman, memancing perdebatan, itu exciting. Aku nggak akan menukar seluruh jalan cerita yang ada dengan apa pun.

ST: Setuju. GoT nggak begitu jauh dengan kenyataan. Ada pelecehan seksual, ada orang-orang terbunuh tiap hari dalam cara yang sangat brutal, ada ketidaksetaraan gender. Kadang kita butuh serial TV atau film untuk pelarian, seolah-olah itu bohongan. Padahal enggak. Dan, kalau kita bisa berdiskusi atau bahkan berdebat soal itu, kita berada di jalan yang benar. Ketika sudah membicarakan sesuatu, kita selangkah lebih dekat dengan memperbaikinya.

Pernah baca teori-teori bikinan fans nggak? Apa yang paling gila?
MW: Aku pernah membaca prediksi fans bahwa Cersei bakal jadi White Walker dan menikah dengan Night King. Mereka memerintah Westeros sebagai zombi, hahahaha.

ST: Eh, kok kamu bilang sih. Itu spoiler, lho!

Apakah kalian menyimpan suvenir dari syuting?
MW: Memories… (menyanyi)

ST: Aku boleh menyimpan korset yang kupakai sama sebuah gulungan surat dari season terakhir. Isinya itu spoiler banget. Hanya barang-barang kecil seperti itu yang kami bawa. Yang besar-besar nggak boleh karena bakal dijadikan pameran.

MW: Tapi, aku bisa simpan jaketku. Jaket yang dipakai Arya. Kotor, berdarah-darah, Arya banget lah.

ST: Jaket? Kok bisa sih?

MW: Bisa dong. Hahaha! (*)