Superman Is Dead Tegaskan Lagu Lady Rose Bukan tentang Sosok seperti Ratna Sarumpaet

Jakarta: Setelah Big Bang Jakarta akhir tahun lalu, grup punk rock Superman is Dead (SID) kembali tampil di panggung musik Jakarta lewat Synchronize Fest 2018. Mereka sempat curhat betapa susah mendapat izin tampil karena aktivitas mereka dalam gerakan sosial lingkungan di Bali.

“Kami jarang manggung, izin disusahkan,” kata Bobby Kool kepada penonton di di Gambir Expo Kemayoran, Minggu malam, 7 Oktober. 

“Tetapi akhirnya, apa yang kami perjuangkan bisa terwujud. Kemenangan soal reklamasi (Teluk Benoa) sudah kita dapatkan. Semoga kita bisa lebih sering bertemu dengan Outsiders,” tutur Bobby, mengisyaratkan bahwa penampilan panggung mereka dihalangi karena aktif dalam gerakan Bali Tolak Reklamasi.

Ini kedua kalinya SID masuk jajaran penampil utama Synchronize Fest setelah tahun lalu di lokasi yang sama. Jerinx melontarkan pujian kepada festival musik lokal ini karena memberi ruang besar bagi berbagai macam musisi, termasuk dari luar Jakarta. Dia menyindir festival musik yang kurang menghargai musisi setempat.

“Kami yang di Bali disuruh jadi penonton, enggak apa-apa (…). Kami orang Bali jadi penonton saja. Sejak zaman Pak Harto memang dibikin seperti itu. Kami sapi perah yang bahagia,” ungkap Jerinx.

“Saya pastikan Synchronize adalah festival musik terbesar, bukan karena kami diundang, tetapi karena festival ini punya kurasi yang baik dan bukan karena politik, melibatkan banyak kawan musisi daerah lain,” lanjutnya.

Bobby, Jerinx, dan Eka Rock tampil selama satu jam dengan lagu-lagu andalan seperti Kita adalah Belati, Bulan & Ksatria, Kuta Rock City, Jadilah Legenda, Lady Rose, Sunset di Tanah Anarki, dan Kuat Kita Bersinar. 

Jerinx, yang meminta maaf kalau musiknya “terdengar kasar”, mengaku mereka tidak latihan karena sibuk mengerjakan album terbaru. Ini akan menjadi album pertama mereka dalam lima tahun terakhir. 

“Jadi sudah sebulan kami enggak memainkan lagu-lagu ini karena sibuk dengan album baru. Saya ingatkan lagi, album baru SID akan dirilis 7 November. Kami akan kembali seperti SID tahun 2003, lebih liar,” ujar Jerinx.

Ketika membawakan Lady Rose secara akustik, Jerinx sempat berkelakar soal sumber inspirasi lagu. Sebelumnya di media sosial, sejumlah warganet bercanda dan menyebut Lady Rose terinspirasi Ratna Sarumpaet. 

“Yang bilang lagu ini terinspirasi Ratna, silakan pulang. Ini bukan lagu tentang Ratna,” ungkap Jerinx. 

Jerinx juga sempat curhat tentang pandangan miring sebagian orang terhadap perjuangan mereka atas isu lingkungan. Menurut Jerinx, ada sejumlah musisi yang membuat mereka “terlihat seperti band bodoh” karena aktivitas itu. Dia juga menyindir musisi yang tiba-tiba tampak peduli begitu maju sebagai calon legislatif. 

“Kami musisi yang aktif memperjuangkan rumah kami,” ungkap Jerinx. 

SID membawa dua kejutan malam itu. Selain Rhesa (Endah N Rhesa) untuk lagu Sunset di Tanah Anarki, mereka juga mengundang Pee Wee Gaskins untuk lagu penutup Kuat Kita Bersinar. Ini adalah kolaborasi pertama mereka di panggung. 

Namun yang lebih penting, kolaborasi ini menjadi pernyataan bahwa perseteruan antara Dork, basis penggemar PWG, dan Outsider tidak relevan. Penggemar dua grup musik ini sempat dikenal tidak akur. 

SID menjadi grup penutup untuk panggung Lake, yang sebelumnya diisi SATCF, Sacred of Bums, Joni Agung & Double T, RAN, Rocket Rockers, dan The Adams. Bersama dengan sesi mereka, lima panggung lain diisi oleh Padi Reborn, Iwa K, Fourtwnty, dan The Sastro.

(ASA)

Cara DAFTAR POKER Domino Qiu Qiu Capsa Susun Online Indonesia di Situs Agen Judi Terpercaya Assosiasi Resmi Dewapoker IDN Bank BCA, BNI, BRI dan Mandiri.